Skip to main content

Boleh gak mengharapkan Zakat/Sedekah menjadi Pahala (Iklas)



Semalam teringat beberapa perdebatan kecil di sebuah komunitas sosial, komunitas persahabatan dimana ada terlontar sebuah bahasa sahabat tentang keutamaan bersedekah, terceplos sebuah kalimat mengenai “mengharapkan adanya zakat dan sedekah yang dapat diberikan pada bulan ramadhan akan berlimpah 2 kali lipat”. Hanya sekedar sarana untuk saling belajar, Saya pikir pertama kita harus pisahkan antara “kebiasaan/adat” dan “ridho Allah”, karena apapun yang kita lakukan atas dan mengharap ridho-Nya dengan keiklasan insya Allah akan diberikan kemudahan. Dimanapun atau kapanpun zakat dan sedekah diberikan tentu dengan keutamaan karena Allah tentu akan menjadi baik dan tidak harus melalui perdebatan manusia kapan, atau siapa yang memberikan dan bentuknya apa.


Kita beramal tentu selalu adalah dengan mengharapkan ridho Allah, karena dengan ridhonya kita mendapat sebuah tanda mata atas usaha kita di jalan-Nya yang dinamakan dengan pahala, apapun yang kita lakukan dengan ridho Allah selalu dan pasti terus dapat mendapat pahala yang akan di nisab di hari akhir kita. Mengharapkan pahala adalah sama halnya dengan mengharap ridho tapi tidak seperti mengharap surga atau karena takut kepada neraka.


Rasulullah SAW mengklasifikasikan derajat hamba-hamba Allah SWT dengan 3 tingkatan.

1. Derajat mukmin yg beribadah karena takut kepada neraka.

2. Derajat mukmin yg beribadah karena inginkan surga.

3. Derajat mukmin yg beribadah hanya karena menginginkan keridhoan Allah SWT.


Rasulullah SAW selalu berdoa untuk dihindarkan dari neraka, meminta surga, dan menginginkan Ridho Allah, Alqur’an pun menyebut ancaman dahsyat dan pedihnya siksa neraka, dan Alqur’an pula menyebut indahnya surga. Alqur’an menyebut pula janji Allah untuk memberikan siksaan pedih di Neraka bagi hamba-hamba Nya yg dhalim, dan setiap kali membaca ayat itu Rasul SAW berhenti dan berdoa mohon dihindarkan dari siksa neraka.


Menurutnya Ustad Yusuf Mansyur, setiap kita bersedakah, akan dijanjikan oleh Allah balasan minimal 10 kali lipat dari yang kita sedekahkan. Salah satu janji Allah ini bisa dibaca di Quran surat Al-An’am ayat 160 yang bunyinya :


Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya dan barang siapa membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”.

Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?


10 – 1 = 19


Ya, di sana kita akan melihat keganjilan hitungan matematis. Sebuah pengurangan yang justru menghasilkan penambahan. Kenapa begitu? Kenapa bukan 10-1 = 9? Inilah matematika sedekah, kita memberi dari apa yang kita punya, dan Allah akan mengembalikan lebih banyak lagi.


Matematika sedekah di atas, diambil dari Quran Surat Al-An`am ayat 160, Allah menjanjikan balasan 10X lipat bagi mereka yang mau berbuat baik (sedekah), bahkan dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan hingga 700X lipat. (cara penghitungan ini sudah di anggap lumrah oleh sebagian orang yang memang untuk merasionalisasikan ide dan realitas yang ada sekarang)


Sebelumnya, kita sudah mengetahui, bahwa:


10 - 1 = 19


Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:


10 - 2= 28

10 - 3= 37

10 - 4= 46

10 - 5= 55

10 - 6= 64

10 - 7= 73

10 - 8= 82

10 - 9= 91

10 - 10= 100


singkatnya :

Tidak ada larangan beribadah dan bersedekat atau zakat karena menginginkan surga, namun memang derajat tertinggi adalah beribadah karena menginginkan Ridho Allah semata, meminta surga dan meminta dihindarkan dari Neraka.


Nah begitulah sahabat, saya kira apapun yang kita lakukan baik dengan keiklasan konvensional ataupun rasionalisasi keiklasan bukan berdasar pada atas pesan atau paksaan antar kita manusia yang harus mengetahui seberapa banyak anda bersedekah atau berzakat, tetapi pada harapan dapat untuk dapat dipertanggung jawabkan di akhirat kemudian. Sehingga nilai baik dari ibadah-ibadah kita dapat sampai kembali.

Mudah-mudahan kita menjadi yang selamat dunia akhirat, semoga

Amien…

Totok Guntur “Beruang” Dewanto

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Renungan Organisasi - Perdebatan 5 Jari Tangan

Kembali aku bertanya-tanya kemarin dan hari ini, mengenai ke egoisan dan ke eksistensialisan “manusia”, apakah memang kenyataan hidup bahwa manusia memang hidup harus di bawah / di atas orang lain, apakah kita terbiasa menjadi supertipikal dari tipikal dan sub tipikal, ataukah pilihannya menjadi supertipikal di subkultur?? Hahaha pertanyaan yang memusingkan…ya ya ya setidaknya tidak semua “manusia” memanusiakan dirinya. Pertanyaan itu terjawab ketika aku melihat organisasi super universal TUBUH MANUSIA, yg terdiri dari sel-sel, kenapa organisasi sel terbesar super universal itu selalu bisa berkerja secara berkesinambungan dan sinergi satu sama lain, jawab sepertinya karena mereka bekerja sama dan memahami satu sama lain. Ada sebuah contoh Cerita tentang salah satu bagian super universal TUBUH MANUSIA itu dan tentang bagaimana kerjasama terjadi, semoga bermanfaat. PERDEBATAN 5 JARI TANGAN Suatu ketika sebuah jari manis berkata kepada 4 rekan jarinya, "Akulah y...

Pemulung Bersahaja....

Semoga Bermanfaat........(dari blog seorang teman yang indah sekali) “Shalihah, mari kita tidur, ingat, seharian tadi kita begitu lelah mencari barang-barang rongsokan, coba kamu perhatikan wajah manis anak-anak kita” ucap sang suami kepada istrinya yang memang belum juga tertidur seperti sedang memikirkan sesuatu, dan sang istri hanya membalas dengan senyuman termanis. “Andai kesulitan adalah hujan dan kemudahan adalah matahari, maka kita perlu keduanya utk bisa melihat Pelangi, sebelum berfikir utk mencari solusi ttg masalah yg kita hadapi, maka berdo’alah kepada Allah yang pertama harus kita perbaiki” seorangayah.wp.com , Pinggiran Jalan di salah satu sudut Kota Jakarta, waktu menunjukkan pukul 21.30 sebuah keluarga pemulung tampak sedang bersiap untuk beranjak tidur Sementara, lalu lintas yang hanya berjarak 5 meter dari “rumah” mereka seperti tak pernah tidur, suara-suara kendaraan dengan klaksonnya yang selalu saja berlomba untuk minta di dengar dan tidak mau mengalah dengan k...

Kenapa Kita sering Kesal dan Gampang Marah??

Apa maksudnya ketika kita berkata kalau kita sakit hati? Atau tiba-tiba seseorang telah menyinggung perasaan atau mempermalukan kita? Apa maksudnya ketika kita menyebutkan sesuatu yang tak termaafkan atau seseorang bertindak kurang ajar atau tidak hormat? Yang kita katakan sebenarnya adalah perilaku orang lain membuat kita seakan-akan mengalami luka emosinal. Begitu kan? OKe, bagus! Yang jadi pertanyaanya sekarang, yaitu: Mengapa kita terluka karena situasi seperti itu? Mengapa kita peduli? Ada bahkan yang mengatakan sakit hati saja tidak cukup, kalau perlu dibalas perbuatan makluk tersebut? nah ini coba jawab Mengapa lagi? Mari kita pahami bersama pertanyaan-petanyaan mengapa ini. Apakah kita merasa terganggu ketika seseorang pengemudi lain memotong jalan? Ataukah ketika seseorang menolak, mengabaikan atau mempermalukan kita? Atau mencuri, berbohong pada kita, atau menghianati kita? Tentu saja kita merasa sakit hati, tertipu, dan marah, tetapi pertanyaannya adalah Mengapa? pembelaan y...