Skip to main content

Renungan Organisasi - Perdebatan 5 Jari Tangan

Kembali aku bertanya-tanya kemarin dan hari ini, mengenai ke egoisan dan ke eksistensialisan “manusia”, apakah memang kenyataan hidup bahwa manusia memang hidup harus di bawah / di atas orang lain, apakah kita terbiasa menjadi supertipikal dari tipikal dan sub tipikal, ataukah pilihannya menjadi supertipikal di subkultur?? Hahaha pertanyaan yang memusingkan…ya ya ya setidaknya tidak semua “manusia” memanusiakan dirinya.


Pertanyaan itu terjawab ketika aku melihat organisasi super universal TUBUH MANUSIA, yg terdiri dari sel-sel, kenapa organisasi sel terbesar super universal itu selalu bisa berkerja secara berkesinambungan dan sinergi satu sama lain, jawab sepertinya karena mereka bekerja sama dan memahami satu sama lain. Ada sebuah contoh Cerita tentang salah satu bagian super universal TUBUH MANUSIA itu dan tentang bagaimana kerjasama terjadi, semoga bermanfaat.



PERDEBATAN 5 JARI TANGAN


Suatu ketika sebuah jari manis berkata kepada 4 rekan jarinya, "Akulah yang paling berguna dibandingkan kalian semua. Orang-orang selalu menempatkan cincin pernikahannya padaku, itu karena aku paling manis di antara kalian semua.


Si Jari jempol pun merasa tidak mau kalah, "Jangan sombong dulu, aku jari yang paling baik. Setiap orang selalu menggunakan aku untuk menunjukkan hal yang baik-baik."


Urun rembug "Tapi kalian berdua tidak selamanya berguna", sanggah jari telunjuk. "Setiap kali orang hendak menunjuk sesuatu, ia selalu menggunakan aku. Itu artinya aku yang paling bermanfaat."


Selagi ketiga jari tersebut berdebat mengenai kehebatannya, jari tengah dan kelingking terdiam. Mereka merasa tidak memiliki hal yang dapat dibanggakan. Jari jempol, telunjuk dan jari manis menyadari hal itu. Mereka menertawakan dan mengejek jari tengah dan kelingking. Hal itu membuat jari tengah dan kelingking minder. Mereka tidak mau lagi bekerja bersama ketiga jari tersebut.


Sampai suatu ketika kelima jari itu hendak mengangkat barang, jari tengah dan kelingking menolak untuk membantu. Alhasil yang bekerja hanya jari manis, telunjuk dan jempol. Mereka tidak kuat mengangkat beban tanpa kehadiran dua jari lainnya. Begitu pula ketika hendak digunakan untuk makan, ketiga jari itu merasa kesulitan untuk menyuap nasi. Akhirnya mereka menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada jari tengah dan kelingking.


Begitulah cerminan hidup kita dalam berorganisasi, dimanapun, di tempat apapun. Pasti ada orang yang menonjol dalam bidang yang berlainan, jangan selalu meremehkan mereka yang memilih jalan berbeda tetapi tetap mendukung organisasi, jangan terlalu membesarkan juga orang yang selalu ingin kelihatan tapi menjadi arogan. Namun bila kita menyadari lebih dalam bahwa keorganisasian TUBUH MANUSIA, tentang kelebihan dan kekurangan kita sebenarnya harus bisa saling melengkapi, tentang keindahan – keburukan, tentang kiri - kanan, tentang manis – asam, semuanya itu untuk kita saling melengkapi, maka organisasi yang terdiri dari orang-orang yang “kelebihan” yang menjadikannya sebagai alat untuk menyombongkan diri masing-masing, maka organisasi yang seharusnya menjadi besar malah akan hancur. So, jadilah pribadi yang bisa menghargai orang lain, maka kita akan mampu menciptakan organisasi yang berkompeten.


Respect Yourself, Respect Others

Beruang

Salam hangat persahabatan my brother n sister

Comments

Popular posts from this blog

Pemulung Bersahaja....

Semoga Bermanfaat........(dari blog seorang teman yang indah sekali) “Shalihah, mari kita tidur, ingat, seharian tadi kita begitu lelah mencari barang-barang rongsokan, coba kamu perhatikan wajah manis anak-anak kita” ucap sang suami kepada istrinya yang memang belum juga tertidur seperti sedang memikirkan sesuatu, dan sang istri hanya membalas dengan senyuman termanis. “Andai kesulitan adalah hujan dan kemudahan adalah matahari, maka kita perlu keduanya utk bisa melihat Pelangi, sebelum berfikir utk mencari solusi ttg masalah yg kita hadapi, maka berdo’alah kepada Allah yang pertama harus kita perbaiki” seorangayah.wp.com , Pinggiran Jalan di salah satu sudut Kota Jakarta, waktu menunjukkan pukul 21.30 sebuah keluarga pemulung tampak sedang bersiap untuk beranjak tidur Sementara, lalu lintas yang hanya berjarak 5 meter dari “rumah” mereka seperti tak pernah tidur, suara-suara kendaraan dengan klaksonnya yang selalu saja berlomba untuk minta di dengar dan tidak mau mengalah dengan k...

5 Milyarder Sederhana di Dunia

APA yang akan Anda lakukan jika menjadi milyarder yang memiliki banyak uang? Meski pun memiliki kekayaan senilai milyaran dolar AS, sejumlah milyader berikut ini memilih tidak menghambur-hamburkan harta mereka untuk menjalani gaya hidup mewah. Simak pelajaran yang dapat dipetik dari lima milyarder sederhana di dunia berikut ini, dalam membangun prinsip hidup hemat dan sederhana: 1. Warren Buffett Jutaan orang telah membaca buku yang ditulis Warren Buffett dan mengikuti setiap pergerakan perusahaannya, Berkshire Hathaway. Akan tetapi, rahasia sebenarnya dari kekayaan pribadi Buffett barangkali berasal dari kebiasaan hidup hematnya. Buffett, yang saat ini diperkirakan memiliki kekayaan senilai AS$ 47 milyar, menolak tinggal di rumah supermegah dan membeli barang-barang mewah. Dia masih tinggal di sebuah rumah sederhana di Omaha, Nebraska, yang dibelinya seharga AS$ 31.500 lebih dari 50 tahun silam. Meskipun dia telah bersantap di berbagai restoran terbaik di penjuru dunia...