Dapat sebuah SMS dri belahan jiwa, “mas aku lagi bête ni, kita nonton bioskop aja yuk”, ku balas “boleh asal janji gak boleh bête lagi ya”. Akhirnya sampailah kita di sebuah bioskop “anak muda”, karena yang nonton banyak banget anak2 ABG-nya setiap kali kita nonton disitu, atau memang hanya itu kerjaan mereka ya??. Jatuh hatilah pada film “Brooklyn Finest”, ya walau gak begitu suka film berbau drama, yo wis lah…kan apapun buat si belahan jiwa, hehehe. Ulasannya gini, film ini adalah tentang film gabungan dari 3 karekter utama yaitu Eddie Dugan (Richard Gere), Sal Procida (Ethan Hawke), dan Clarence Butler (Don Cheadle), mereka adalah tiga orang polisi New York yang berdinas di 65th Precinct, Brooklyn. Mereka mempunyai karakter-karakter unik dan tujuan akan masa depan mereka, termasuk godaan-godaan mereka masing-masing dalam menjalankan tugas.
Eddie (Richard Gere) seorang polisi yang menjalankan tugasnya dengan penuh pengabdian dan dedikasi (berkesan egois dan sendiri) sehingga melupakan keluarganya, berdampak pernikahannya menjadi tak bahagia, hal ini banyak kita temui dari contoh-contoh kita dilapangan mengenai banyaknya orang yang lebih banyak mengejar karir daripada inti daripada mengejar karir itu apa, baca: MEMENUHI KEBUTUHAN, dimana bukan karir yang membahagiakan keluarga tadi, tapi “hasil” dari karir itu. Dimana di akhir film ini eddie akhirnya menyadari bahwa dia telah banyak kehilangan kehidupannya, termakan oleh pekerjaannya, pensiun yang tidak ada penghormatan dari teman-teman maupun kesatuannya, walau dia telah puluhan tahun bekerja menjadi polisi yang jujur dan berbakti.
Sal (Ethan Hawke) seorang polisi yang jujur juga, tetapi berubah menjadi “bajingan” karena keadaan merubah keimanannya dengan kondisi mesti menghidupi banyaknya anak (7 orang anak), dan istri yang sering sakit-sakitan. Dia berusaha bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarganya sebagai seorang pekerja kepolisian tetapi hasilnya tidak terlalu maksimal. Dia Sal adalah ayah dan suami yang tidak ingin mengecewakan keluarga, melakukan apa pun dan hampir apapun untuk mengejar kehidupan yang layak bagi keluarganya walau mesti melanggar hokum. Hal ini juga banyak kita temukan di kehidupan, dimana banyak orang yang mencari jalan pintas (korupsi, berbohong, menipu), kalau setidaknya kita berpikir dan berusaha, masih banyak jalan lain bagi kita untuk mendapatkan mimpi-mimpi kita melalui jalan-jalan yang di ridhoi Allah.
Tango (Don Cheadle) polisi yang telah menghabiskan tiga tahun terakhir menyamar sebagai pembunuh dan pengedar narkoba. Bertugas demi Negara tapi dalam waktu sekejap juga kehilangan keluarganya karena hanya bekerja dan bekerja. Dalam perjalanan persahabatan dengan kehidupan gangsternya, dia menemukan bahwa kehidupan gangster lebih banyak di dasari pada kepercayaan dan kebutuhan hidup untuk bekerjasama, mereka harus saling watch their back bersama-sama, berbeda dengan kehidupannya waktu menjadi polisi yang lebih individual.
Ironis memang yang kita dapat dari sebuah pelajaran tentang dedikasi dan intergritas. Ketika tentang beratnya hidup dalam sebuah tanggung jawab besar tidak sebanding dengan apa yang kita upayakan. Tentang bagaimana godaan kekuasan, harta, wanita bahkan aktualisasi diri menjadi hal yang seharusnya realistis dan bisa menjadi sebuah formula untuk tambah memperbaiki keadaan dan tidak membalikannya. Ketika manusia tidak bisa memilih jalan hidupnya, dan tidak terpenuhinya kebutuhannya itu akan menjadi masalah bagi semua dasar kehidupan. Hanya pilihan mereka sendiri yang membuat mereka bisa menjadi petugas terbaik di Brooklyn dan kita.
Terakhir pacarku bilang, mas filmnya jelek ya, aku nyeloteh, “gak de, justru bagus banget, pelajaran penting untuk aku yang harus bekerja lebih cerdas lagi dan kreatif lagi buat kamu dan kita”.
Selamat Menonton,
Totok Guntur “Beruang” Dewanto
Comments
Post a Comment