Skip to main content

Kau Mau Kaya atau Mau Terkenal - Kenarsisan Usaha

Tergelitik dari pertanyaan yang sering dilemparkan sahabat-sahabat Tionghoaku mengenai sebuah pertanyaan sederhana “anda mau jadi terkenal apa mau jadi kaya”??, hal itu sering dilakukan ketika mereka liat bahwa kenarsisan individualku tidak setara dengan kenarsisan usahaku hehehe, coba deh ku tanya jika ada seseorang yang menanyakan hal demikian kepada sahabat-sahabatku apa yang akan kalian jawab?? Terlihat simple memang tapi membuat kita ragu dalam menjawab bukan. Sama hal-nya apa yang aku rasakan.


Seorang sahabatku bahkan menjelaskan bahwa dalam budaya Tionghoa, mereka sangat menjunjung tinggi bahwa untuk menjadi “kaya” sudah otomatis kita akan menjadi “terkenal”, tetapi bila kita target menjadi “terkenal” belum tentu anda bisa menjadi orang “kaya” – prinsip ini merasuk di dalam persahabatan usaha/bisnis mereka dan pergaulan….menurut mereka bahwa focus pembangunan usaha tidak berbanding lurus berhubungan dengan orientasi kepada pembangunan citra pribadi, tetapi lebih utama yaitu pembangunan pondasi permodalan, sedangkan pembangunan citra usaha pun hanya dibicarakan ketika itu berkaitan dengan pinjaman permodalan. Aku sepakat mengenai pandangan bahwa pembangunan citra pribadi tercipta ketika usaha yang kita kelola sudah menjadi pembuktian bahwa kita telah mampu memanage-nya secara baik dan memang anda berhasil, terlepas dari segala ke gengsian, lepas dari klaim pribadi dan tipu muslihat.


Sebuah contoh ada beberapa teman yang mempertahankan mati-matian gaya usaha-nya yang bila dinilai terlihat asal-asalan, walaupun telah di berikan masukan berulang kali oleh para sahabatnya tapi beliau tetap menjalaninya menurutku ini juga bukan hal yang salah. Tetapi usaha yang baik menurutku adalah usaha yang melibatkan “pengukuran”, walau sedikit dari hal tadi menurut pandanganku seharusnya bahwa prinsip sebenarnya usaha adalah mengenai cara BEKERJASAMA, tidak layaknya seperti kita dalam kondisi hidup hanya untuk diri kita sendiri (red:baca karyawan). Dalam prinsip usaha tionghoa mereka tidak pernah terlalu mengagungkan/mengklaim diri mereka yang terbaik untuk menjadi terkenal, mereka hanya berusaha yang terbaik, banyak usaha di Negara kita yang berbeda kenyataannya, yang seharusnya “tulis apa yang akan kau lakukan, dan lakukan apa yang kau tulis” (sama artinya bila “tulis” diganti dengan “celoteh”) tetapi lebih kepada gertakan sambal saja ya setidaknya kenarsisan pribadi “terkenal” bisa jadi pemasukan hiburan diri. Usaha tidak akan bergerak signifikan kalau kita melakukan usaha/bisnis adalah atas dasar karena “hanya kita”, teman disamping atau di belakang kita melengkapi “blank spot” di punggung yang tidak terlihat oleh kita. Tentang anggapan bahwa bisnis adalah peristiwa individual adalah memang harus dihadapi pahit manisnya, tetapi kan kita tidak punya waktu tahunan untuk selalu melakukan kesalahan demi kesalahan……kenapa tidak dengan prinsip “mendengarkan orang lain adalah kebijaksanaan dan mendengarkan diri sendiri adalah pencerahan”. Dari contoh itu apakah teman-teman jelas mengenai perbedaan pertanyaan “mau kaya, apa mau terkenal”??


Teringat akan ungkapan Deng Shiauping: "to be rich is glorious" dan pengejawantahannya yang bisa dilihat secara riil dalam segi kemajuan ekonomi Negara Tiongkok dan meningginya martabat negara itu, jadi bingung apa memang manjur ungkapan (filsafat) itu. Tidak ada seorang manusiapun yang tidak ingin jadi kaya/berkecukupan/apapun istilahnya, begitupun negara manapun tidak ada yang tidak ingin jadi makmur dan sejahtera. Bahkan ajaran2 agama manapun yang kita temukan tidak akan ada yang mengajarkan: "jadilah anda seorang miskin di dunia ini"! Karena menjadi miskin komplikasinya banyak sekali, selain berdampak kritis terhadap kesehatan sendiri, gangguan jiwa, orang miskin juga bisa mengakibatkan kejahatan (Jadi kayak iklan rokok aja). Maka tepat jika ada beberapa sahabat yang menganalogikan kemiskinan adalah kesengsaraan dan itu adalah neraka dunia!. Tetapi lain hal dengan “terkenal”, apa perlu semua orang menjadi “terkenal”, apa pernah dalam agama dunia kita juga diwajibkan untuk menjadi “terkenal”, dan apakah yang terpenting menjadi “terkenal” akan membantu orang-orang yang kelaparan di jalan yang seharusnya bisa anda bantu dari usaha atau bisnis anda yang penuh kekayaan.


Mengingatkan kita bahwa adalah bukan hanya karena “kita” semua sisi bisnis dapat berjalan dengan baik…..kesemuanya adalah mengenai pelanggan, sahabat, teman, karyawan, rekan/mitra kerja dan keluarga kita…karena tidak ada seorang pun yg tidak berguna bagi persahabatan usaha/bisnis, krn semua yang kita lakukan yang dapat berdampak terbaik itu lah yg selalu produktif untuk selalu kita perjuangkan menjadi sesuatu yang PALING BAIK dalam diri KITA.....semoga


Totok Guntur “Beruang” Dewanto

Comments

Popular posts from this blog

Renungan Organisasi - Perdebatan 5 Jari Tangan

Kembali aku bertanya-tanya kemarin dan hari ini, mengenai ke egoisan dan ke eksistensialisan “manusia”, apakah memang kenyataan hidup bahwa manusia memang hidup harus di bawah / di atas orang lain, apakah kita terbiasa menjadi supertipikal dari tipikal dan sub tipikal, ataukah pilihannya menjadi supertipikal di subkultur?? Hahaha pertanyaan yang memusingkan…ya ya ya setidaknya tidak semua “manusia” memanusiakan dirinya. Pertanyaan itu terjawab ketika aku melihat organisasi super universal TUBUH MANUSIA, yg terdiri dari sel-sel, kenapa organisasi sel terbesar super universal itu selalu bisa berkerja secara berkesinambungan dan sinergi satu sama lain, jawab sepertinya karena mereka bekerja sama dan memahami satu sama lain. Ada sebuah contoh Cerita tentang salah satu bagian super universal TUBUH MANUSIA itu dan tentang bagaimana kerjasama terjadi, semoga bermanfaat. PERDEBATAN 5 JARI TANGAN Suatu ketika sebuah jari manis berkata kepada 4 rekan jarinya, "Akulah y...

Pemulung Bersahaja....

Semoga Bermanfaat........(dari blog seorang teman yang indah sekali) “Shalihah, mari kita tidur, ingat, seharian tadi kita begitu lelah mencari barang-barang rongsokan, coba kamu perhatikan wajah manis anak-anak kita” ucap sang suami kepada istrinya yang memang belum juga tertidur seperti sedang memikirkan sesuatu, dan sang istri hanya membalas dengan senyuman termanis. “Andai kesulitan adalah hujan dan kemudahan adalah matahari, maka kita perlu keduanya utk bisa melihat Pelangi, sebelum berfikir utk mencari solusi ttg masalah yg kita hadapi, maka berdo’alah kepada Allah yang pertama harus kita perbaiki” seorangayah.wp.com , Pinggiran Jalan di salah satu sudut Kota Jakarta, waktu menunjukkan pukul 21.30 sebuah keluarga pemulung tampak sedang bersiap untuk beranjak tidur Sementara, lalu lintas yang hanya berjarak 5 meter dari “rumah” mereka seperti tak pernah tidur, suara-suara kendaraan dengan klaksonnya yang selalu saja berlomba untuk minta di dengar dan tidak mau mengalah dengan k...

Kenapa Kita sering Kesal dan Gampang Marah??

Apa maksudnya ketika kita berkata kalau kita sakit hati? Atau tiba-tiba seseorang telah menyinggung perasaan atau mempermalukan kita? Apa maksudnya ketika kita menyebutkan sesuatu yang tak termaafkan atau seseorang bertindak kurang ajar atau tidak hormat? Yang kita katakan sebenarnya adalah perilaku orang lain membuat kita seakan-akan mengalami luka emosinal. Begitu kan? OKe, bagus! Yang jadi pertanyaanya sekarang, yaitu: Mengapa kita terluka karena situasi seperti itu? Mengapa kita peduli? Ada bahkan yang mengatakan sakit hati saja tidak cukup, kalau perlu dibalas perbuatan makluk tersebut? nah ini coba jawab Mengapa lagi? Mari kita pahami bersama pertanyaan-petanyaan mengapa ini. Apakah kita merasa terganggu ketika seseorang pengemudi lain memotong jalan? Ataukah ketika seseorang menolak, mengabaikan atau mempermalukan kita? Atau mencuri, berbohong pada kita, atau menghianati kita? Tentu saja kita merasa sakit hati, tertipu, dan marah, tetapi pertanyaannya adalah Mengapa? pembelaan y...