Skip to main content

Menghancurkan Mimpi


Menjadi seorang wirausahawan belum tentu mimpi semua orang, bahkan motif seseorang menjadi wirausahawan pun beragam, mulai dari yang menjalani usaha karena tidak sengaja kok malah jadi dagang, berusaha untuk nambah-nambahin uang sampingan untuk keinginan hidup yang lain, dalam kondisi yang sangat kepepet kebutuhan hidup, atau memang karena mereka niat untuk menggantungkan hidupnya dalam usaha. Yang pasti sengaja atau tanpa sengaja menjadi wirausahawan setidaknya orang-orang itu yang mengawal sektor riil kita sekarang telah berjasa menjaga kestabilan distrubusi ekonomi kita, sehingga bangsa ini tidak terpuruk terlalu-terlalu......he3, sektor riil yang recehan tapi punya kestabilan yang tinggi dan tidak rentan oleh situasi.

Menjadi salah satu "mimpi" tentu akan dirasakan oleh sebagian orang yang benar-benar menjalani kehidupan, dimana mimpi "kita" dan "kami" akan selalu terus bertabrakan pasti. Saya masih mengingat seperti apa dulu orang terdekat kita tanyakan kepada kita waktu TK atau SD, "cita-citamu menjadi apa nak??", banyak yang menjawab menjadi dokter, menjadi pilot, bahkan ada yang menjadi menteri atau presiden.....intinya apa keinginan mendalam esensi dari cita-cita itu "take power" or "have a important effort", sebenarnya baik dalam kondisi tertentu bila cita-cita anak-anak kita kita ini dikelola oleh pendidikan yang bertanggung jawab esensi cita-cita itu dapat tumbuh subur dalam keberagaman kebutuhan bangsa. Saya ingat waktu dulu ditanya orang tua saya, "cita-citamu apa nak??", saya menjawab menjadi tukang sate, atau kadang saya menjawab untuk menjadi petani.....walau pada saat itu saya tidak mengerti apa pentingnya cita-cita tapi yang pasti saya sudah jujur mengatakan apa pandangan polos kita menengai impian. Sehingga saya berpikir sekarang, apa kita bisa mengarahkan anak-anak usia dini kita dari hanya sekedar pertanyaan sederhana tentang "Cita-cita" mereka, tentang tanggapan polos mereka pada profesi kita di dunia, menjadi sebuah "greater determination", tentu dengan membiarkan mereka melihat berbagai contoh cita-cita. Walau begitu hingga saat ini saya masih bermimpi sebagai wirausahawan khususnya dalam bidang pertanian, meski saat ini takdir saya berkata lain saya harus menjadi seorang abdi negara di sebuah institusi negara ini, tapi dari sela-sela kesempatan tersebut saya masih berusaha melengkapi kewajiban saya terhadap negara dan bangsa ini untuk menjadi seorang amphibi yang aggresive, amphibi yang bisa membantu diri sendiri dan juga orang lain, dan bukan hanya menutup mata dan hati terhadap persoalan relitas hidup.

Sampai suatu ketika saya membaca sebuah Tabloid, "loh apa ini" sebuah nama unik, nama yang bikin bergetar hati saya "Ciputra", Ciputra merupakan inspirator kedua saya yang memberikan arti bagi hidup bahwa impian bisa membawa kita ke ujung jalan di dunia dengan elegan (**inspirator pertama saya seorang kawan baik Tukang Bubur di Kalibata**), beliau mengingatkan bagaimana kita bisa menghancurkan impian jahat kita dan merubahnya menjadi mimpi untuk membawa diri memberikan arti bagi dunia. Dari begitu banyaknya impian Bos Ciputra pada negara ini, saya begitu terharu pada mimpinya untuk melihat 4.000.000 (empat juta) pemuda-pemudi wirausahawan/entrepreneur yang akan mengubah Indonesia dalam 25 tahun ke depan. Dimana hal yang dikatakan beliau sesuai dengan apa yang mengacu pada Undang-Undang Kepemudaan, yang mengajak Pemuda Indonesia untuk jadi Moral Force, Social Control dan Agent of Change! Karena itu, mereka juga diharapkan jadi Leader, Entrepreneur dan Pioneer.


Dimanakah anda saudaraku......mari kita beri arti hidup kita......

Salam Hangat - Keluarga Beruang

Comments

Popular posts from this blog

Renungan Organisasi - Perdebatan 5 Jari Tangan

Kembali aku bertanya-tanya kemarin dan hari ini, mengenai ke egoisan dan ke eksistensialisan “manusia”, apakah memang kenyataan hidup bahwa manusia memang hidup harus di bawah / di atas orang lain, apakah kita terbiasa menjadi supertipikal dari tipikal dan sub tipikal, ataukah pilihannya menjadi supertipikal di subkultur?? Hahaha pertanyaan yang memusingkan…ya ya ya setidaknya tidak semua “manusia” memanusiakan dirinya. Pertanyaan itu terjawab ketika aku melihat organisasi super universal TUBUH MANUSIA, yg terdiri dari sel-sel, kenapa organisasi sel terbesar super universal itu selalu bisa berkerja secara berkesinambungan dan sinergi satu sama lain, jawab sepertinya karena mereka bekerja sama dan memahami satu sama lain. Ada sebuah contoh Cerita tentang salah satu bagian super universal TUBUH MANUSIA itu dan tentang bagaimana kerjasama terjadi, semoga bermanfaat. PERDEBATAN 5 JARI TANGAN Suatu ketika sebuah jari manis berkata kepada 4 rekan jarinya, "Akulah y...

Pemulung Bersahaja....

Semoga Bermanfaat........(dari blog seorang teman yang indah sekali) “Shalihah, mari kita tidur, ingat, seharian tadi kita begitu lelah mencari barang-barang rongsokan, coba kamu perhatikan wajah manis anak-anak kita” ucap sang suami kepada istrinya yang memang belum juga tertidur seperti sedang memikirkan sesuatu, dan sang istri hanya membalas dengan senyuman termanis. “Andai kesulitan adalah hujan dan kemudahan adalah matahari, maka kita perlu keduanya utk bisa melihat Pelangi, sebelum berfikir utk mencari solusi ttg masalah yg kita hadapi, maka berdo’alah kepada Allah yang pertama harus kita perbaiki” seorangayah.wp.com , Pinggiran Jalan di salah satu sudut Kota Jakarta, waktu menunjukkan pukul 21.30 sebuah keluarga pemulung tampak sedang bersiap untuk beranjak tidur Sementara, lalu lintas yang hanya berjarak 5 meter dari “rumah” mereka seperti tak pernah tidur, suara-suara kendaraan dengan klaksonnya yang selalu saja berlomba untuk minta di dengar dan tidak mau mengalah dengan k...

Kenapa Kita sering Kesal dan Gampang Marah??

Apa maksudnya ketika kita berkata kalau kita sakit hati? Atau tiba-tiba seseorang telah menyinggung perasaan atau mempermalukan kita? Apa maksudnya ketika kita menyebutkan sesuatu yang tak termaafkan atau seseorang bertindak kurang ajar atau tidak hormat? Yang kita katakan sebenarnya adalah perilaku orang lain membuat kita seakan-akan mengalami luka emosinal. Begitu kan? OKe, bagus! Yang jadi pertanyaanya sekarang, yaitu: Mengapa kita terluka karena situasi seperti itu? Mengapa kita peduli? Ada bahkan yang mengatakan sakit hati saja tidak cukup, kalau perlu dibalas perbuatan makluk tersebut? nah ini coba jawab Mengapa lagi? Mari kita pahami bersama pertanyaan-petanyaan mengapa ini. Apakah kita merasa terganggu ketika seseorang pengemudi lain memotong jalan? Ataukah ketika seseorang menolak, mengabaikan atau mempermalukan kita? Atau mencuri, berbohong pada kita, atau menghianati kita? Tentu saja kita merasa sakit hati, tertipu, dan marah, tetapi pertanyaannya adalah Mengapa? pembelaan y...